Postingan

Kisah Panjang dan Pilu Perjuangan Masyarakat Adat Tiga Marga di Distrik Miyah Selatan

Gambar
"Kisah Panjang dan Pilu Perjuangan Masyarakat Adat Tiga Marga di Distrik Miyah Selatan"    Di pelosok hutan hujan tropis Distrik Miyah Selatan, Kabupaten Tambrauw, hidup tiga marga besar: Rae Sewia, Rae Sedik Ruf, dan Rae Hae Arameyuo. Mereka adalah pewaris sah tanah adat yang luas dan subur, tanah yang bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga ruang sakral tempat cerita leluhur, hukum adat, dan identitas masyarakat dititipkan sejak ratusan tahun lalu.    Namun, di balik kekayaan alam dan warisan budaya yang mereka jaga, tersimpan kisah pilu yang belum berakhir hingga hari ini. Tanah adat mereka belum diakui secara resmi oleh pemerintah daerah maupun negara. Bagi birokrasi, tanah itu seolah kosong, siap ditandai sebagai “lahan pembangunan”. Bagi investor, tanah itu dilihat sebagai ruang ekonomi, bukan rumah kehidupan. Luka karena Tak Diakui    Ketika tanah leluhur dianggap tak bertuan, masyarakat adat merasa seakan dirinya terhapus dari peta bangsa. Padahal,...

“Peta Bukan Sekadar Garis: Perjuangan Masyarakat Adat Papua Menjaga Tanah dan Hutan Leluhur”

Gambar
  Di balik hijau lebat hutan Tambrauw, tersimpan kisah panjang perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanah leluhur. Hutan bukan sekadar deretan pohon yang menjulang tinggi, melainkan rumah, sumber kehidupan, dan kitab terbuka yang berisi sejarah panjang orang Miyah dan suku-suku adat lainnya. Namun, di tengah derasnya arus investasi dan pembangunan, ancaman kehilangan ruang hidup semakin nyata. Dari kegelisahan inilah, Perkumpulan Akawuon Tambrauw lahir dan bergerak. Awal Perjuangan: Dari Suara Lisan Menjadi Peta Selama puluhan tahun, batas-batas wilayah adat hanya diwariskan lewat cerita lisan para tetua. Generasi muda hanya bisa mendengar tanpa memiliki bukti tertulis. Hal ini membuat posisi masyarakat adat rapuh ketika berhadapan dengan kepentingan luar. Akawuon menyadari bahwa lisan saja tidak cukup. Dibutuhkan alat yang kuat, yang diakui pemerintah: peta wilayah adat. “Peta bukan hanya dokumen teknis. Ia adalah pagar yang melindungi tanah, hutan, dan manusia Miyah,” ujar D...

Masyarakat Adat Suku Miyah Terus Memperjuangkan Hak Kesulungannya

Gambar
10 marga masyarakat hukum adat Suku Miyah yang mendiami wilayah pemerintahan kabupaten Tambrauw telah selenggarakan Musyawarah Tapal Batas Wilayah Adat Marga. Kegiatan Musyawarah Tapal Batas Wilayah Adat Marga yang berlangsung dini hari tanggal 20 sampai berakhir pada tanggal 02 Maret dilakukan di Kampung Whizmer Distrik Miyah Selatan, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya.  Kegiatan tersebut diperagakan dengan tarian yang meriah dari 10 marga untuk menjemput para tamu undangan yang datang.  Tamu undangan yang menghadiri kegiatan ini adalah Greenpeace, The Samdana Institute, FWI, BRWA dan Akawuon sendiri yang tim pendampingan. Setelah masuk dalam tahapan acara, Musyawarah Adat marga Hae Aranggapo, Hae Tee, Sedik Aya Makot, Hae Ara Meyuo, Sedik Ruf, Momo Ka, Momo Heyout, Irun, Sewia, Esyah resmi di buka Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Raya, Feki Mubalen dengan manabuh tifa yang didampingi oleh Kepala Distrik Miyah Selatan serta perw...

Alam Menyediakan Segalanya yang Kita Inginkan

Gambar
Saya salah satu orang yang  hobinya masuk keluar hutan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di sana, mulai dari bagaimana alam berhubungan erat dengan budaya dan kehidupan kita hingga bagaimana alam menjadi tempat satu-satunya yang tepat untuk menyenangkan raga atau menghilangkan stress.  Cerita singkat Perjalanan Kami saat Pendemi Covid-19, Karena sudah bosan tinggal di kampung saya mengajak beberapa adik-adik pergi Bermalam dihutan untuk berburu dan ajakan itu pun direspon baik oleh mereka. Begitu kami menyiapkan bekal untuk keberangkatan nanti datanglah Kakak laki-laki dan saya langsung perintahkan dia untuk kembali panggil anjing-anjingnya untuk ikut kita, Kakak pun nurutinya.  Tepat Pukul 08.30 waktu papua kami bertolak dari Distrik Syujak menuju ke Wilayah Distrik Tinggouw. Medan yang cukup berat begitupun naik turun gunung  kami harus lewati karena semangatnya. Jam 05.00 kami pun tiba di salah satu Dusun  Ayayuo namanya atau tempat Persinggahan Masyarakat...

MARWAS NATH TAMBRAUW PLANNING GOING FORWARD

Gambar

“76 TAHUN PEMERINTAHAN DISTRIK TINGGOUW”

Gambar
P ada saat masa Pemerintahan Raja Sultan Tidore atau Masa Portugis, Kampung  Kwoor  mekarkan salah satu kampung yaitu  Kampung Tubouw . B egitu Kampung Tubouw dimekarkan, maka semua masyarakat yang mendiami di Wilayah Soon atau yang sekarang Distrik Tinggouw, mereka semua berkumpul di Kampung Tubouw dan mereka pun hidup nyaman dan saling bergantungan satu sama lain. P ada suatu hari, sekitar tahun 1940-1942 terjadi musibah besar-besaran dan kebanyakan Masyarakat Asli Tubouw yang meninggal. Kemudian masyarakat saling tuduh menuduh katanya Masyarakat dari Soon yang bawa datang penyakit ini, dan akhirnya Masyarakat Tubouw mengusir masyarakat yang dari Soon untuk pulang kembali ke negeri atau daerahnya. Masyarakat Soon saat itu, mengirim berita dan mendesak Kampung Induk Kwoor untuk meminta pemekaran kampung sendiri, dan permintaannya pun terjawab. P ada saat itu tahun 1943 nama SK Kampung yang keluar namanya  Kampung Ruriay.  Masyarakat percayakan u...

Kebangkitan Komunitas Masyarakat Adat Kampung Hopmare, Kab. Tambrauw-Propinsi Papua Barat

Gambar
Kampung Hopmare, merupakan kampung yang terletak di Distrik Kwoor Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat. Kampung ini dapat di jumpai dengan menggunakan alat transportasi darat, laut dan Udara, untuk transportasi darat dapat ditempuh dari Kabupaten Sorong selama Lk 4 Jam perjalanan darat dengan menggunakan Mobil Hillux doubel cabin, untuk transportasi laut telah tersedia Kapal ekspress dengan waktu tempuh Lk 3 Jam dari sorong-Sausapor, lalu menggunakan transportasi darat ( Mobil) ke kampung Hopmare Lk 1 jam perjalanan.demikian pula dengan transportasi udara telah ada pesawat Susi Air yang melayani rute sorong-Tambrauw, namun untuk pesawat harus menunngu jadwal penerbangan 2 minggu sekali, demikian pula kapal ekspress dengan jadwal 3 kali perminggu rute perjalanan Sorong-Sausapor. Kampung Hopmare di huni oleh Lk 55 Kepala keluarga, dengan jumlah Jiwa berkisar 115 Jiwa, yang bermukim menetap dikampung Hopmare, rata-rata mata pencaharian penduduk diperoleh dari bertani, baik dari...